Senin, 06 Juni 2011

Oleh:
Arie Asnaldi, S.pd


Sebelum kita membahas tentang pengertian secara mendalam mengenai Pendidikan Jasmani, Maka kita melihat dulu bagaimana dengan sejarah dan perkembangan Pendidikan Jasmani di Indonesia, supaya lebih paham dan lebih mengerti tentang pendidikan jasmani dalam peroses pembelajaran yang terjadi di Sekolah Dasar.

A. Pengertian pendidikan jasmani
            Pengertian Pendidikan jasmani dari para ahli berbeda-beda secara konsep dasar namun secara perinsip baleh dikatakan sama, yang  menggunakan aktivitas fisik untuk menghasilkan kebugaran secara menyeluruh dari kondisi  fisik, mental, dan emosional seseorang. Pendidikan jasmani ada dalam realitas bidang perhatian yang luas. Dasarnya adalah perbaikan dan kemampuan gerak manusia. Lebih khusus lagi, ia berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dengan bidang-bidang pengetahuan lainnya, disini juga dapat dilihat hubungan antara perkembangan jasmani terhadap pikiran, jiwa, prilaku dalam bermasyarakat yang perlu dikembangkan. Definisi Pendidikan Jasmani Salah satu definisi yang paling akhir ditulis oleh Jesse Feiring Williams: “Pendidikan Jasmani adalah tentang sejumlah aktivitas-aktivitas fisik manusia yang dipilih, dan dilaksanakan dengan maksud untuk mencapai hasil yang bermanfaat bagi tubuh”. William menekankan satu hal bahwa walaupun pendidikan jasmani diartikan mengajar dengan fisik, melalui penggunaan aktivitas-aktivitas fisik, tujuannya adalah melampaui fisik tersebut. Ia mencoba untuk mempengaruhi semua bidang perkembangan pendidikan, termasuk pertumbuhan mental dan sosial para siswa. Sementara tubuh diperbaiki secara fisik, pikiran harus mempelajari dan mengembangkan, dan harus ada juga perkembangan sosial, seperti belajar bekerja sama dengan orang lain.
            Harrold M. Barrow menempatkan pendidikan jasmani ke dalam konteks tujuan pengembangan pendidikan tradisonal secara luas, dengan menyatakan :
Pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai “sebuah pendidikan melalui gerakan manusia di mana banyak tujuan-tujuan kependidikan dicapai dengan maksud aktivitas-aktivitas otot dalam olahraga, pertandingan, senam, tari (dansa) dan pemanasan”. Yang hasilnya adalah seseorang yang dididik secara jasmani.
Dalam menempatkan pendidikan jasmani ke dalam total pengalaman kependidikan, Barrows menekankan bahwa pengalaman pendidikan jasmani harus berhubungan dengan proses pendidikan total dan keseluruhan hidup pada masing-masing manusia.
Jan Felshin menyatakan bahwa pendidikan jasmani terfokus pada usaha dan aktivitas otot besar. Pendidikan jasmani tidak lagi dihubungkan dengan gerakan manusia pada saat bekerja. Ia sudah terfokus pada gerakan fisik dalam bermain, berolahraga, dan gerakan fungsi dasar dari tubuh manusia.
Sedangkan menurut Margono (1996) menyatakan bahwa Pendidikan  jasmani adalah proses pemenuhan kebutuhan  pribadi  siswa yang meliputi  aspek  kognitif, efektif, dan psikomotor yang secara eksplisif dapat  terpuaskan melalui  semua bentuk kegiatan jasmani yang diikutinya  dan menurut Sujudi (2006) Pendidikan Jasmani dalah prose pendidikan yang mmemanfaatkan aktivitas manusia  yang direncanakan secara sistimatis untuk menigkatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Dari beberapa definisi di atas, maka dasar pokok pemikiran tersebut, dapat dikembangkan sebagai berikut;
1.    Pendidikan jasmani dilaksanakan sesuai dengan maksudnya; yaitu, semacam aktivitas jasmani atau beberapa macam gerakan yang dilibatkan.
2.    Aktivitas jasmani biasanya dilakukan cukup semangat, ia dihubungkan dengan gerakan motorik kasar, dan kemampuan yang ada tidak harus dikembangkan dengan baik atau mutu tinggi untuk memperoleh manfaatnya.
3.    Walaupun siswa tersebut memperoleh manfaat-manfaat ini melalui sebuah proses fisik, manfaat pendidikan tersebut bagi siswa juga meliputi
Perbaikan area non-fisik seperti pertumbuhan intelektual, sosial dan estetika.
            Dengan demikian Pendidikan Jasmani adalah  proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistimatik, yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neromaskuler , perseptual, kognitif dan emosional.  Ringkasnya, maksud dari pendidikan jasmani adalah jelas: Pendidikan jasmani menggunakan fisik untuk mengembangkan keseluruhan masing-masing siswa. Hal ini merupakan sifat bahwa pendidikan jasmani bukan merupakan bagian dari wilayah pendidikan lainnya. Kita harus memandang istilah jasmani dengan luas, dengan latar belakang yang lebih abstrak, sebagai sebuah keadaan dari pikiran sebagaimana halnya dengan tubuh manusia.
                   Berdasarkan pengertian tersebut, maka pelaksanaan Pendidikan Jasmani dilapangan  harus memahami asumsi dasar sebagai berikut:
1.    Pembelajaran Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan berpusat kepada siswa.
2.    Pembelajaran Pendidikan Jasmani  harus memfokuskan pada keunikan dan perbedaan individu
3.    Pembelajaran Pendidikan Jasmani  harus mengutamatakan  kebutuhan siswa ke arah pertumbuhan  dan kematangan di dalam semua domain, yaitu kognitif, afaktif, dan psikomotor
4.    Hasil pembelajaran Pendidikan Jasmani  harus dikaitkan dengan kebutuhan  yang dapat dicapai secara nyata.
5.     Pembelajaran  yang melibatkan kegiatan fisik  yang dilakukan meliputi semua pengalaman gerak dasar kompetitif dan ekspresi
Selanjutnya menurut Annarino, et all (1990) ada  delapan ciri program Pendidikan Jasmani yang baik, yaitu :
1.    Merupakan  salah satu bagian  integral yang tak  terpisahkan  dari usaha  pendidikan sekolah secara keseluruhan.
2.    Merupakan salah satu  proses  yang dapat memberikan pengalaman  secara  seimbang serta akan mendorong pertumbuhan  dan perkembanga di dalam domai fisik, serta , psikomotor, kognitif, dan afektif
3.    Harus disarakan  pada interes, kebutuhan tujuan , dan kemampuan dari siswa  yang dilayani.
4.    Memberi pengalaman yang dikaitkan  dengan bidang-bidang  dasar kehidupan dan sesuai dengan tingkat kematangan  peserta didik.
5.    Bagian integral dari masyarakat  yang dilayani.
6.    Tersedia fasilitas yang memadai, alokasi dan waktu yang  cukup, peralatan yang memadai , kepemimpinan , dorongan  dan memberikan  suatu gerak  dari kegiatan  yang diinginkan  oleh siswa seluas-luasnya
7.    Suatu kerja sama yang lebih  dekat dengan petunjuk  program sekolah
8.    salah satu cara untuk mempercepat dan mendorong pertumbuhan  yang profesional  dan kesejahteraan  guru harus terlibat  di dalamnya.
                   Berdasarkan uraian di atas, maka filosofi Pendidikan Jasmani  modern Bucher  (1999) mengatakan, program pebelajaran  penjas di Sekolah  harus didasarkan pada komponen, yaitu:

1.    Berpusat pada siswa
2.    Disesuaikan dengan  lingkungan sekolah
3.    Didasarkan pada  perhatian  dan keinginan  anak  yang dihubungkan  dengan sekolah.
4.    Guru sebagai pemandu merencanakan  program  kegiatan bersama-sama siswa.
5.    Dipusatkan  pada pengembangan  anak  secara total, fisik, emosional, dan sosial  yang perlu  di sempurnakan  dan  ditambah dengan kebutuhan  mental.
6.    Pelajaran pribadi  secara langsung, memberikan kesempatan  untuk menunjukkan  kreativitas  sosialisasi, pemecahan masalah, dan bereksperimen.
7.     Berhubungan dengan masyarakat dan bekerja  sama dengan  keluarga.
8.    Kurikulum yang Universal
9.    Disiplin pribadi dan membantu lingkungan sekolah
10. Menjamin pengembangan siswa secara individu.
11. Dilaksanakan melalui ide-ide baru dalam belajar.
                   Berdasarkan penjelasan tentang pelaksanakan Pendidikan Jasmani di lapangan harus memahami tentang keadaan siswa sebagai obyek pembelajaran, kurikulum, sarana dan prasaranan dan bekerja sama dengan siswa dan  masyarakat serta orang tua , dalam proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah.

B. Tujuan  Pendidikan Jasmani di Sekolah
                   Tujuan  Pendidikan Jasmani yang ingin di capai  dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani  di Sekolah   menurut kurikulum KBK tahun 2004  adalah:
1.    Melaksanakan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai dalam Pendidikan Jasmani.
2.    Membangun  landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai , sikap sosial dan toleransi  dalam konteks kemajemukan  budaya etnis  dan agama.
3.    Menumbuhkan kemampuan berfikir  kritis melalui pelaksanaan tugas –tugas ajar Pendidikan Jasmani.
4.    Mengembangkan sikap  sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama , percaya diri dan demokratis  melalui aktivitas jasmani , permainan  dan olahraga.
5.    Mengembangkan  keterampilan  gerak dan keterampilan berbagai macam permainan dan olahraga  seperti: permainan dan olahraga, aktivitas  pengembangan, uji diri/senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air), dan pendidikan luar kelas (outdoor education)
6.    Mengembangkan keterampilan  pengelolaan  diri dalam upaya pengembangan  dan pemeliharaan  kebugaran jasmani, serta  pola hidup sehat  melalui berbagai  aktivitas  jasmani dan olahraga.
7.    Mengembangkan keterampilan  untuk menjaga  kesimbangan diri sendiri dan olarang lain.
8.    Mengetahui dan memehami  konsep aktivitas  jasmani  dan olahraga sebagai sebagi informasi untuk mencapai kesehatan , kebugaran , dan pola hidup sehat.
9.    Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani  yang bersifat kreatif .  
                   Sedangkan menurut Bucher (1979:45) ada 5 tujuan yang hendak dicapai melalui pendidikan jasamni , yaitu :
1.    Organik, aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa mengembangkan kekuatan otot, daya tahan kardiovaskuler, dan kelentukan.
2.    Neuromuskuler. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa dalam mengembangkan keterampilan lokomotor, kerampilan non lokomotor, dan bentuk-bentuk  keterampilan  dasar permainan, faktor-faktor gerak, keterampilan  olahraga  dan rekreasi.
3.    Interperatif. Aspek ini berkaitan dengan masalah kemauan siswa untuk menyelidiki, menemukan, memperoleh pengetahuan  dan membuat  penilaian . Memahami peraturan  permainan, megukur keamanan, dan tata cara  atau sopan santun, dan disiplin. Menggunakan strategi  dan tehnik  yang termasuk  didalam kegiatan organisasi. Mengetahui fungsi-fungsi tubuh yang berhubungan dengan aktivitas  fisik. Menggunakan evaluasi, dan penilaian  yang dihubungkan  dengan jarak, waktu, ruang, tenaga, kecepatan, dan ketentuan yang  digunakan  dalam pelaksanakan pembelajaran. Dan tak lupa memahami faktor pertumbuhan dan perkembangan umur anak yang berhubungan dengan gerak.
4.    Sosial. Aspek ini terkait  dengan masalah kemampuan siswa melakukan penilaian terhadap diri sendiri dan oranglain  dengan menghubungkan  individu  untuk masyarakat  dan lingkungannya. Kemampuan dalam membuat penilaian dalam suatu situasi kelompok. Belajar berkomunikasi  dengan orang lain. Berkemampuan  untuk merubah  dan menilai  ide-ide dalam kelompok. Pengembangan  dan  fase-fase sosial dari kepribadian,  dan nilai  agar menjadi  anggota masyarakat yang berguna. Mengembangkan  sifat-sifat kepribadian yang positif. Belajar untuk membangun  waktu senggang yang bermanfaat. Mengembangkan sikap yang mengambarkan karakter moral yang baik.
5.    Emosional. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa melakukan  respon  yang sehat terhadap  kegiatan fisik melalui pemenuhan kebutuhan –kebutuhan dasar. Mengembangkan tindakan-tindakan  positif dalam menonton dan keikutsertaan  baik  pada saat berhasil maupun  kalah. Menyalurkan tekanan  melalui kegiatan –kegiatan fisik yang bermanfaat. Mencari jalan keluar untuk ekspresi  dan kreativitas untuk didri-sendiri. Mewujudkan suatu pengalaman seni berasal  dari kegiatan-kegiatan  yang terkait . berkemampuan untuk memiliki kegembiraan atau kesengsaraan.
                   Kemudian Pendidikan Jasmani Menurut Gabbar (1975) ada tiga tujuan  pokok yang harus dicapai, yaitu  a) psikomotor, b)kognitif, c) afektif. Aspek pskomotor meliputi pertumbuhan biologis, kebugaran  yang berhubungan dengan kesehatan dan keterampilan, efisiensi di dalam gerakan, dan sekumpulan dari keterampilan gerak. Aspek kognitif merupakan  kemampuan untuk berpikir (penelitian, kreativitas, dan pemecahan masalah secepat mungkin) kemampuan perseptual, kesadaran gerak, dan dukungan atau dorongan akademik. Aspek afektif meliputi kegembiraan , konsep diri, sosialaisasi, kerja sama (hubungan kelompok), sikap dan apresiasi untuk aktivitas fisik.

Tidak ada komentar: