Oleh:
Arie Asnaldi, S.pd
Sebelum kita membahas tentang pengertian secara mendalam mengenai Pendidikan Jasmani, Maka kita melihat dulu bagaimana dengan sejarah dan perkembangan Pendidikan Jasmani di Indonesia, supaya lebih paham dan lebih mengerti tentang pendidikan jasmani dalam peroses pembelajaran yang terjadi di Sekolah Dasar.
A. Pengertian pendidikan jasmani
Pengertian Pendidikan jasmani dari para ahli berbeda-beda secara konsep dasar namun secara perinsip baleh dikatakan sama, yang menggunakan aktivitas fisik untuk menghasilkan kebugaran secara menyeluruh dari kondisi fisik, mental, dan emosional seseorang. Pendidikan jasmani ada dalam realitas bidang perhatian yang luas. Dasarnya adalah perbaikan dan kemampuan gerak manusia. Lebih khusus lagi, ia berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dengan bidang-bidang pengetahuan lainnya, disini juga dapat dilihat hubungan antara perkembangan jasmani terhadap pikiran, jiwa, prilaku dalam bermasyarakat yang perlu dikembangkan. Definisi Pendidikan Jasmani Salah satu definisi yang paling akhir ditulis oleh Jesse Feiring Williams: “Pendidikan Jasmani adalah tentang sejumlah aktivitas-aktivitas fisik manusia yang dipilih, dan dilaksanakan dengan maksud untuk mencapai hasil yang bermanfaat bagi tubuh”. William menekankan satu hal bahwa walaupun pendidikan jasmani diartikan mengajar dengan fisik, melalui penggunaan aktivitas-aktivitas fisik, tujuannya adalah melampaui fisik tersebut. Ia mencoba untuk mempengaruhi semua bidang perkembangan pendidikan, termasuk pertumbuhan mental dan sosial para siswa. Sementara tubuh diperbaiki secara fisik, pikiran harus mempelajari dan mengembangkan, dan harus ada juga perkembangan sosial, seperti belajar bekerja sama dengan orang lain.
Harrold M. Barrow menempatkan pendidikan jasmani ke dalam konteks tujuan pengembangan pendidikan tradisonal secara luas, dengan menyatakan :
Pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai “sebuah pendidikan melalui gerakan manusia di mana banyak tujuan-tujuan kependidikan dicapai dengan maksud aktivitas-aktivitas otot dalam olahraga, pertandingan, senam, tari (dansa) dan pemanasan”. Yang hasilnya adalah seseorang yang dididik secara jasmani.
Dalam menempatkan pendidikan jasmani ke dalam total pengalaman kependidikan, Barrows menekankan bahwa pengalaman pendidikan jasmani harus berhubungan dengan proses pendidikan total dan keseluruhan hidup pada masing-masing manusia.
Jan Felshin menyatakan bahwa pendidikan jasmani terfokus pada usaha dan aktivitas otot besar. Pendidikan jasmani tidak lagi dihubungkan dengan gerakan manusia pada saat bekerja. Ia sudah terfokus pada gerakan fisik dalam bermain, berolahraga, dan gerakan fungsi dasar dari tubuh manusia.
Sedangkan menurut Margono (1996) menyatakan bahwa Pendidikan jasmani adalah proses pemenuhan kebutuhan pribadi siswa yang meliputi aspek kognitif, efektif, dan psikomotor yang secara eksplisif dapat terpuaskan melalui semua bentuk kegiatan jasmani yang diikutinya dan menurut Sujudi (2006) Pendidikan Jasmani dalah prose pendidikan yang mmemanfaatkan aktivitas manusia yang direncanakan secara sistimatis untuk menigkatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Dari beberapa definisi di atas, maka dasar pokok pemikiran tersebut, dapat dikembangkan sebagai berikut;
1. Pendidikan jasmani dilaksanakan sesuai dengan maksudnya; yaitu, semacam aktivitas jasmani atau beberapa macam gerakan yang dilibatkan.
2. Aktivitas jasmani biasanya dilakukan cukup semangat, ia dihubungkan dengan gerakan motorik kasar, dan kemampuan yang ada tidak harus dikembangkan dengan baik atau mutu tinggi untuk memperoleh manfaatnya.
3. Walaupun siswa tersebut memperoleh manfaat-manfaat ini melalui sebuah proses fisik, manfaat pendidikan tersebut bagi siswa juga meliputi
Perbaikan area non-fisik seperti pertumbuhan intelektual, sosial dan estetika.
Dengan demikian Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistimatik, yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neromaskuler , perseptual, kognitif dan emosional. Ringkasnya, maksud dari pendidikan jasmani adalah jelas: Pendidikan jasmani menggunakan fisik untuk mengembangkan keseluruhan masing-masing siswa. Hal ini merupakan sifat bahwa pendidikan jasmani bukan merupakan bagian dari wilayah pendidikan lainnya. Kita harus memandang istilah jasmani dengan luas, dengan latar belakang yang lebih abstrak, sebagai sebuah keadaan dari pikiran sebagaimana halnya dengan tubuh manusia.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka pelaksanaan Pendidikan Jasmani dilapangan harus memahami asumsi dasar sebagai berikut:
1. Pembelajaran Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan berpusat kepada siswa.
2. Pembelajaran Pendidikan Jasmani harus memfokuskan pada keunikan dan perbedaan individu
3. Pembelajaran Pendidikan Jasmani harus mengutamatakan kebutuhan siswa ke arah pertumbuhan dan kematangan di dalam semua domain, yaitu kognitif, afaktif, dan psikomotor
4. Hasil pembelajaran Pendidikan Jasmani harus dikaitkan dengan kebutuhan yang dapat dicapai secara nyata.
5. Pembelajaran yang melibatkan kegiatan fisik yang dilakukan meliputi semua pengalaman gerak dasar kompetitif dan ekspresi
Selanjutnya menurut Annarino, et all (1990) ada delapan ciri program Pendidikan Jasmani yang baik, yaitu :
1. Merupakan salah satu bagian integral yang tak terpisahkan dari usaha pendidikan sekolah secara keseluruhan.
2. Merupakan salah satu proses yang dapat memberikan pengalaman secara seimbang serta akan mendorong pertumbuhan dan perkembanga di dalam domai fisik, serta , psikomotor, kognitif, dan afektif
3. Harus disarakan pada interes, kebutuhan tujuan , dan kemampuan dari siswa yang dilayani.
4. Memberi pengalaman yang dikaitkan dengan bidang-bidang dasar kehidupan dan sesuai dengan tingkat kematangan peserta didik.
5. Bagian integral dari masyarakat yang dilayani.
6. Tersedia fasilitas yang memadai, alokasi dan waktu yang cukup, peralatan yang memadai , kepemimpinan , dorongan dan memberikan suatu gerak dari kegiatan yang diinginkan oleh siswa seluas-luasnya
7. Suatu kerja sama yang lebih dekat dengan petunjuk program sekolah
8. salah satu cara untuk mempercepat dan mendorong pertumbuhan yang profesional dan kesejahteraan guru harus terlibat di dalamnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka filosofi Pendidikan Jasmani modern Bucher (1999) mengatakan, program pebelajaran penjas di Sekolah harus didasarkan pada komponen, yaitu:
1. Berpusat pada siswa
2. Disesuaikan dengan lingkungan sekolah
3. Didasarkan pada perhatian dan keinginan anak yang dihubungkan dengan sekolah.
4. Guru sebagai pemandu merencanakan program kegiatan bersama-sama siswa.
5. Dipusatkan pada pengembangan anak secara total, fisik, emosional, dan sosial yang perlu di sempurnakan dan ditambah dengan kebutuhan mental.
6. Pelajaran pribadi secara langsung, memberikan kesempatan untuk menunjukkan kreativitas sosialisasi, pemecahan masalah, dan bereksperimen.
7. Berhubungan dengan masyarakat dan bekerja sama dengan keluarga.
8. Kurikulum yang Universal
9. Disiplin pribadi dan membantu lingkungan sekolah
10. Menjamin pengembangan siswa secara individu.
11. Dilaksanakan melalui ide-ide baru dalam belajar.
Berdasarkan penjelasan tentang pelaksanakan Pendidikan Jasmani di lapangan harus memahami tentang keadaan siswa sebagai obyek pembelajaran, kurikulum, sarana dan prasaranan dan bekerja sama dengan siswa dan masyarakat serta orang tua , dalam proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah.
B. Tujuan Pendidikan Jasmani di Sekolah
Tujuan Pendidikan Jasmani yang ingin di capai dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah menurut kurikulum KBK tahun 2004 adalah:
1. Melaksanakan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai dalam Pendidikan Jasmani.
2. Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai , sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya etnis dan agama.
3. Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui pelaksanaan tugas –tugas ajar Pendidikan Jasmani.
4. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama , percaya diri dan demokratis melalui aktivitas jasmani , permainan dan olahraga.
5. Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan berbagai macam permainan dan olahraga seperti: permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri/senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air), dan pendidikan luar kelas (outdoor education)
6. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani, serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga.
7. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga kesimbangan diri sendiri dan olarang lain.
8. Mengetahui dan memehami konsep aktivitas jasmani dan olahraga sebagai sebagi informasi untuk mencapai kesehatan , kebugaran , dan pola hidup sehat.
9. Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat kreatif .
Sedangkan menurut Bucher (1979:45) ada 5 tujuan yang hendak dicapai melalui pendidikan jasamni , yaitu :
1. Organik, aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa mengembangkan kekuatan otot, daya tahan kardiovaskuler, dan kelentukan.
2. Neuromuskuler. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa dalam mengembangkan keterampilan lokomotor, kerampilan non lokomotor, dan bentuk-bentuk keterampilan dasar permainan, faktor-faktor gerak, keterampilan olahraga dan rekreasi.
3. Interperatif. Aspek ini berkaitan dengan masalah kemauan siswa untuk menyelidiki, menemukan, memperoleh pengetahuan dan membuat penilaian . Memahami peraturan permainan, megukur keamanan, dan tata cara atau sopan santun, dan disiplin. Menggunakan strategi dan tehnik yang termasuk didalam kegiatan organisasi. Mengetahui fungsi-fungsi tubuh yang berhubungan dengan aktivitas fisik. Menggunakan evaluasi, dan penilaian yang dihubungkan dengan jarak, waktu, ruang, tenaga, kecepatan, dan ketentuan yang digunakan dalam pelaksanakan pembelajaran. Dan tak lupa memahami faktor pertumbuhan dan perkembangan umur anak yang berhubungan dengan gerak.
4. Sosial. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa melakukan penilaian terhadap diri sendiri dan oranglain dengan menghubungkan individu untuk masyarakat dan lingkungannya. Kemampuan dalam membuat penilaian dalam suatu situasi kelompok. Belajar berkomunikasi dengan orang lain. Berkemampuan untuk merubah dan menilai ide-ide dalam kelompok. Pengembangan dan fase-fase sosial dari kepribadian, dan nilai agar menjadi anggota masyarakat yang berguna. Mengembangkan sifat-sifat kepribadian yang positif. Belajar untuk membangun waktu senggang yang bermanfaat. Mengembangkan sikap yang mengambarkan karakter moral yang baik.
5. Emosional. Aspek ini terkait dengan masalah kemampuan siswa melakukan respon yang sehat terhadap kegiatan fisik melalui pemenuhan kebutuhan –kebutuhan dasar. Mengembangkan tindakan-tindakan positif dalam menonton dan keikutsertaan baik pada saat berhasil maupun kalah. Menyalurkan tekanan melalui kegiatan –kegiatan fisik yang bermanfaat. Mencari jalan keluar untuk ekspresi dan kreativitas untuk didri-sendiri. Mewujudkan suatu pengalaman seni berasal dari kegiatan-kegiatan yang terkait . berkemampuan untuk memiliki kegembiraan atau kesengsaraan.
Kemudian Pendidikan Jasmani Menurut Gabbar (1975) ada tiga tujuan pokok yang harus dicapai, yaitu a) psikomotor, b)kognitif, c) afektif. Aspek pskomotor meliputi pertumbuhan biologis, kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan dan keterampilan, efisiensi di dalam gerakan, dan sekumpulan dari keterampilan gerak. Aspek kognitif merupakan kemampuan untuk berpikir (penelitian, kreativitas, dan pemecahan masalah secepat mungkin) kemampuan perseptual, kesadaran gerak, dan dukungan atau dorongan akademik. Aspek afektif meliputi kegembiraan , konsep diri, sosialaisasi, kerja sama (hubungan kelompok), sikap dan apresiasi untuk aktivitas fisik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar